Antara Bekerja dan Menekuni Hobi, Mampu Sejalankah?

Senin, September 11, 2017


Kalian punya hobi? Pasti punya dong. Nah, dari sekian banyak hobi yang kalian punya, apa yang paling kalian suka?

Kalo aku, aku memilih membaca.

Wah pinter dong suka baca? Hahaha ngga kok. Aku suka baca fiksi doang.

Dari masih SMP aku suka baca fiksi baik itu novel, cerpen di majalah gaul dan bobo, sampai fanfiction di berbagai macam portal web.

Dari hobi suka baca fanfict tersebut, dulu aku coba-coba buat fanfict sendiri. Emang fanfict tersebut ngga berhasil aku selesaikan karena aku kehilangan motivasi waktu menulis ceritanya, belum lagi karena waktu itu aku belum kenal sama plot cerita yang mengakibatkan ceritaku kehilangan arah dalam mencapi ending, akhirnya ceitaku berakhir sampai situ saja. Tapi hikmahnya, dari situ aku tau kalo aku juga suka menulis.

Kemudian memasuki masa SMA, aku mulai membuat blog buat wadah aku menulis puisi maupun tulisan-tulisan pendek. Tapi lagi-lagi, aku ngga menyeriusi blogku. Bahkan semua tulisanku di masa SMA udah aku hapus karena aku merasa enggan melihat blog yang tulisannya musiman, hanya ketika mood menulis datang saja. Kadang keki juga melihat blog yang isinya cuma puisi-puisi ngga jelas.

Tapi sekarang aku agak sedikit menyesal, sih. Ntah kenapa andai aku boleh mengulang, mungkin aku akan membuat aku yang dahulu lebih serius dalam menulis. Walau aku ngga yakin aku di masa SMP mampu menulis dengan bagus, tapi setidaknya waktu bertahun-tahun yang terlewat bisa melatih kemampuan menulisku menjadi lebih baik dari kemampuan menulisku sekarang.

Mungkin aku muluk-muluk, tapi, mungkin kalau dari dulu aku serius, aku saat ini sudah bisa menulis sebuah buku. Mungkin, kan?

Mungkin aku yang hobi nulis ini bisa nulis terus sampai kejatuhan ilham berupa ide cerita menarik, dan diterima oleh penerbit buku. Atau orang lain yang doyan jalan-jalan. Andai dulu ngga sekedar jalan-jalan tapi sekalian bikin travel diary baik itu di blog maupun youtube, mungkin sekarang bisa jalan-jalan gratis berkat sponsor maupun endorsement. Juga yang doyan make up, andai dulu berani inisiatif ngejual keahliannya dari sekedar dandanin temen, adek kelas, atau kakak kelas buat acara wisuda atau apa gitu, mungkin sekarang udah bisa jadi MUA.

Tapi nyatanya bekerja sesuai dengan hobi dan keinginan kita kadang tidak semudah kenyataannya. Kita melupakan bahwa menyukai suatu kegiatan tidak menjadikan kita semerta-merta ahli dalam kegiatan tersebut. Kita perlu belajar dan ahli untuk membuat hobi tersebut menjadi ladang penghasilan kita. Sementara kita sudah menghabiskan banyak waktu untuk melakukan hal-hal lain, dibanding mencari ilmu demi menambah nilai plus dalam 'mempekerjakan' hobi kita.

Lalu kalau sudah terlambat begini, apa berarti kita ngga bisa memulainya sama sekali?

Bisa dong. 

Kuncinya satu. Usaha.

Selama kamu masih produktif dan mau berkreativitas, kamu masih punya potensi buat sukses dalam menekuni hobi dan menjadikannya pencaharian utama. Tinggal bagaimana tekad dan kemampuan kamu dalam mewujudkannya. Aku sendiri yakin banyak hal positif yang akan kita peroleh dari bekerja sesuai dengan hobi kita, salah satunya adalah berkurangnya tekanan dalam bekerja. Berkurang bukan berarti ngga ada sama sekali, ya, tapi karena apa yang kita kerjakan adalah sesuatu yang kita sukai maka kejenuhan atau tekanan tersebut akan semakin jarang datang. Di sisi lain, kita bisa lebih memahami titik tekanan dalam pekerjaan kita dan mengubahnya menjadi motivasi, atau bahkan mampu menemukan inovasi untuk mencegah tekanan tersebut datang kembali.

Terus gimana dong yang kerjanya udah terlanjur ngga sesuai hobi?

Itu pilihan masing-masing, kok. Postingan ini bukan bertujuan mempengaruhi orang yang ngga cocok sama kerjaannya buat keluar aja, bukan itu. Kamu boleh berhenti bekerja dan memulai pekerjaan baru yang sesuai dengan passionmu, kalo kamu pikir memang itu yang terbaik dan sudah mempertimbangkannya matang-matang. Kamu juga bisa tetap bekerja di tempat sekarang, dengan tetap menekuni hobimu sebagai hiburan atau bahkan pekerjaan sambilan. Kuncinya, kerjakan dan fokuslah.

But, how?

Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah tentukan prioritas. Kalau kamu memilih tidak meninggalkan pekerjaanmu yang sekarang, artinya pekerjaanmu adalah prioritas utamamu. Kerjakan hobimu diluar waktu kerjamu, atau carilah waktu dimana kamu bisa meluangkan waktumu untuk hobimu. Dengan catatan, konsisten atas waktu luangmu. Jangan kamu gunakan waktu senggangmu untuk hal-hal tidak bermanfaat seperti nongkrong tanpa tujuan, main mobile legend sepanjang hari, nonton film tanpa tahu waktu, dan lain-lain. Seriuslah dalam menekuni hobimu, dengan motivasi suatu saat kamu bisa mendapatkan reward atas hobimu bila kamu bersungguh-sungguh mengerjakannya. Hobi memang sekedar sesuatu yang senang kita kerjakan, tapi kesenangan tersebut pasti akan mendapatkan reward apabila kita mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh. Lain cerita kalo dari awal hobimu memang hanya untuk penghilang stress semata.

By the way, ngga munafik ya kalo kita mengerjakan sesuatu pasti maunya dihargai. Baik itu receh ataupun dalam jumlah besar. Penghargaan itu sendiri menurut aku bukan berarti kita gila harta, ngga mau kerja cuma-cuma padahal cuma hobi, tapi penghargaan merupakan suatu kebanggaan. Ada kebahagiaan tersendiri kalo hobi kita mampu menghasilkan sesuatu walau ngga seberapa. Kita merasa kalau apa yang kita kerjakan itu diakui dan dihargai, perasaan semacam itulah yang menurut aku membuat penghargaan atau reward itu penting untuk didapat.

Kalo aku pribadi sih, sebenernya pingin kerja sesuai dengan passion aku. Realitanya aku gampang banget jenuh sama pekerjaanku sekarang, ntah karena kurang hiburan atau emang bener-bener ngga cocok sama pekerjaan kantoran begini, aku juga ngga tau. Tapi masalahnya buat ngelepas pekerjaan yang udah kita punya tuh ngga segampang itu, apalagi orang tua ngga ngebolehin. Orang tua bilang, "ngga gampang dapet pekerjaan enak, harus bersyukur walau kadang pasti ada ngga enaknya." Oke, hal itu kemudian aku jadikan motivasi untuk tetap bertahan bekerja kantoran walau kadang jenuh ngga pandang deadline kerjaan. Tapi enaknya dari aku bekerja, sih, aku bisa dapetin duitnya buat mendukung hobiku yang lain. Ngga rugi, kan? Hehe.

Tapi balik lagi, semua tergantung pribadi masing-masing sih. Kadang keinginan yang kuat, banyak yang ngga dibarengi oleh tekad dan usaha yang kuat juga, mangkanya kegagalan acap kali menghadang. Termasuk aku, sejujurnya.

Tulisan ini bukan ditulis karena aku udah mampu membarengi pekerjaan dan menekuni hobi, tapi karena aku ingin melakukannya. Masalahnya, tekadku itu yang kadang maju mundur dari dulu, mangkanya kesuksesanku dari hobi juga ngga mau maju. Tapi disamping itu, bukan kesuksesan aja yang aku kejar. Aku pingin seenggaknya ada sedikit arti dari hidupku yang biasa-biasa aja ini. Masa iya, sih, hidupku cuma buat nongkrong sana sini, nonton film dan drama, terus shopping pas dapet gaji, gitu doang? Ngga produktif banget.

Jadi, yuk sama-sama kita perbaiki tekad dan usaha kita agar sejalan sama banyak keinginan kita. Mari sama-sama memproduktifkan diri. Walau hasilnya belum tentu besar, setidaknya kita bisa mendapatkan hasilnya pada diri kita sendiri. Menjadikan diri kita pribadi yang berguna dan produktif, pensiun jadi netizen di belakang layar yang kerjaannya komentarin artis sana-sini. Kuy?

You Might Also Like

22 komentar

  1. Betul juga nihh,

    kadang susah juga menemukan pekerjaan sesuai hobi,

    Tapi iya kalau kita terus berusaha mengasah hobi kita, ak yakin pasti akan ada hasilnya.

    Ow iya, kayaknya ak baru pertama kali mampir kesini, salam kenal iya :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, butuh tekad sama kreatifitas bgt buat membuat hobi kita jd pekerjaan. Tapi, ya, setiap usaha pasti ada hasilnya.

      hehe iya, salam kenal. :)

      Hapus
  2. pekerjaan yang paling enak itu hobi yang menghasilkan, klo pekerjaan kita bukan hobi kita, jadikan pekerjaan itu perlahan2 jadi hobi, sebisa mungkin dibawa asik, karena cinta datang karena terbiasa mba, dan usaha tidak akan mengkhianati, kayak lagunya JKT48 hh.

    nice post mba, mampir ke blogku mba

    allaboutnaufal.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih, semuanya akan jd cinta kalo udah terbiasa. Cuma, ya, membiasakannya emang perlu effort lebih ya kalo dari awal kita ngga ada ketertarikan.

      Ok, otw ya..

      Hapus
    2. iya mba, bismillah dan diniatin ikhlas aja

      Hapus
  3. Namanya hidup emang kadang ga sesuai realita,
    contohnya aku, hobinya ini, kerjaanya gitu eh kuliahnya jurusan anu.
    Tapi ya di nikmati saja semua pasti ada hikmahnya wk :v

    Btw, sayang banget kamu pernah ngapusin postinganmu yang dulu.
    padahal seru loh bisa baca tulisan jadul kita,
    kita jadi sadar betapa alaynya kita,
    lalu jadikan itu sebagai bahan evaluasi.

    e tapi kalo boleh jujur, aku juga pernah ngapusin hampir 100 postingan lamaku loh wakakak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, karna ngga semuanya sesuai realita, seenggaknya jangan menyerah buat tetap melakukan apa yg kita suka. Hehe

      Iya, nyesel bgt sebenernya sekarang, andai dulu ngga main hapus aja. Tapi, ya, udah terlanjur, mau gimana lagi. Seenggaknya kedepan aku jd ngga gampang asal hapus postingan lg.

      haha 100 banyak amat, yak. apa aja tuh isinya.

      Hapus
  4. Setuju. Bekerja sesuai dengan hoby kita memang menyenangkan dan mendukung banget ketimbang melakukan pekerjaan yang tidak sejalan dengan hobi kita. Tapi, yah namanya hidup. Gak selamanya yang kita inginkan itu juga yang kita dapatkan.

    Oh iya kok kita samaan ya... banyak postingan di blog yg saya hapus eh gak hapus sih cuma saya kembalikan ke draft karena merasa udah gak layak publish... padahal seperti yang kamu bilang, coba dari dulu tetap rajin dan konsisten menulis barangkali kemampuan menulis kita juga bakal meningkat... saya juga merasakan hal yang sama

    Betewe ini pertama kalinya saya berkunjung di blog kami. Salam kenal ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tapi ya nyatanya kita memang butuh bekerja, dan mempekerjakan hobi kita memang butuh usaha dan sabar yang lebih. :)

      hahaha iya padahal dulu pas ngehapus mikirnya cuma 'ih apaan si ini tulisan ngga jelas banget'. tapi yaudahlah, belajar konsisten nulis aja siapa tau bermanfaat.

      Iya salam kenal juga :)

      Hapus
  5. problematika anak umur 20an. hahaha
    bngung mau nekunin hobi yang disukai atau kerja dengan hal yg kita sendiri ga suka'' banget, kecuali dengan uangnya.
    tapi selama dinikmatin dan engga banyak ngeluh, kedua hal ini kayaknya bisa dikerjakan barengan kok.
    klo ngebahas penyesalan yg dulu'', skrg saaatnya eksekusi hal itu. lupain hal yg udah terjadi di masa lalu, jdiin pelajaran, skrg lakuin apa yg dulu pernah di impikan. nulis buku? semangat!! soalnya hampir smua blogger, punya cita'' itu. gue juga. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, bener banget. Aku jg masih 20 dan ini masih jadi problem besat dalam diriku.

      Setuju, sebenernya semua tetep bisa kita lakuin barengan selama kita emang niat. Kadang tuh, contohnya aku sendiri, ketika udah punya kerjaan jd ngga semangat lg nekunin hobi, akhirnya malah ngga produktif.

      Tapi selama kita semangat, at least kita bisa tetap produktif dan hobi kita ngga sia-sia. Hahaha nulis buku mungkin ngga, cuma seenggaknya blog ini jalan aja aku udah bersyukur. Wkwk

      Hapus
  6. Siapa sih yang nggak suka hobinya dibayar dan jadi penghasilan?

    Tapi ya itu tadi realitanya nggak bisa sesuai ekspektasi kita. Akupun merasakannya juga. Aku kerja kantoran dan menurutku kerjaan ini bukan passionku. Aku suka ngeblog, travelling, dan fotografi, pingin banget kerja di bidang ini.

    Semua itu memang kembali ke pribadi masing-masing. Kalau aku egois, mungkin aku bisa resign. Tapi hidup nggak cuman perkara diriku aja, bagaimana dengan orang tuaku yang bersama-sama berjuang, memberikan dukungan moril dan finansial selama ini hingga aku menjadi yang sekarang? Pasti sedih banget dan aku nggak mau itu terjadi.

    Jalan tengahnya kalau buat aku, disyukuri dan dinikmati kerjaannya sekarang. Uang gajiku, aku kelola sedemikian untuk mendukung hobiku. Dan alhamdulillah orang tua mendukung. Entah nanti kedepannya bagaimana, sekarang kita lakukan yang terbaik atas pilihan ini dan semangat menjalaninya agar tidak ada penyesalan nantinya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, akupun mengalami hal yg sama kok. Mangkanya dr awal aku bilang kalo akupun gabisa resign. Tapi dr situ aku negasin, ngga bekerja sesuai passion pun ngga menghalangi kita buat produktif dengan hobi kita, asal ada usahanya.

      Hobi memang ngga selalu jd pekerjaan utama, tp jgn biarin hobi itu ngga ada manfaatnya di diri kita. :)

      Hapus
  7. Saya adalah orang yang sangat berpikir keras tentang itu. Dari sekarang, saya sibuk memikirkan mata kuliah untuk nanti ambil pekerjaan. Mau ambil keinginan orang tua, nanti ngga bebas. Mau ambil keinginan sendiri, takut orang tua kecewa. Mulai mikir dari sini, mungkin butuh pembuktian dulu~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo saya, saya ikut keinginan orang tua walau di awal bener-bener ngga ikhlas. Tapi alhamdulillah hasilnya emang memuaskan pekerjaan saya hasilnya bisa lebih dr cukup, cuma negatifnya, pekerjaannya ngga sesuai passion saya. Sekarang tinggal kamu aja, mau prefer kemana.

      Hapus
  8. HAI REFANI!!

    Kayaknya baru pertama main ke sini nih. Dan sama banget kayak aku dulu juga hobi banget baca majalah gaul sampe nabung dulu uang sakunya buat beli hahaha..juga majalah kayak gadis, kawanku, cosmogirl. Tapi kalau itu pinjem di rentalan. Hahaha..

    Dan sama juga dulu aku mulai ngeblog jga pas SMA karena pas itu ada pelajharan IT ceritanya bikin blog dan jadi keterusan sampe jadi salah satu hobiku, nulis. Tapi well, gampang ga,pang susah sih kalau jadiin hobi sebagai pekerjaan, misal nulis. Emang banyak sih yang kayak karena menulis tapi income yang didapat tuh ga stabil. hehehe..jadi kalau buat aku menulis itu semacam sidejob aja, kadang side job ku juga bsia datangin rejeki lo. :D

    Dan whatt?? Kelahiran 1997 dan liat ig nya udah menikah dan udah tamat kuliah? So awesome then!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha aku malah dr jaman SD ngumpulin duit jajan buat beli majalahnya, sampe bela-belain ngga jajan.

      Iya, aku tau susah emang buat jadiin nulis itu job utama. Aku juga buat jadiin ini blog sidejob belum kepikiran, masih pentingin rutinin nulis dulu. Karena skrg orientasi utama aku adalah balikin lg semangat aku buat nulis. Hehe.

      Wahh makasih! Alhamdulillah hidupku lg mulus hahaha

      Hapus
  9. Sepertinya gue akan menjadikan hobi gue jadi pekerjaan deh. Hobi gue maen bola. Hah. Ngimpi jadi pemain bola. Wkwkwk

    Entah ngeblog dan menulis ini hobi atau gimana. Yg pasti gue suka ngejalanin dan gue bisa cukup konsisten. Ya semoga ini bisa buat gue lebih baik lah.

    Intinya nikmati dan usaha aja sih. Semoga kelak bisa lebih baik lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahaha, tapi kakak sepupu aku yg hobinya main badminton dr kecil sekarang bisa ngebangun GOR sendiri dan buka pelatihan semacam club badminton gitu, dia jadi pelatih.

      It's ok si menurut aku, selama kita bisa produktif akan sesuatu. At least hidup kita lebih positif hehe.

      Hapus
  10. Saya termasuk orang yang keluar dari pekerjaan pada tahun 2014 lalu, sebab terlalu nekat untuk ngikutin renjana: menulis. Waktu itu saya kerja di perpajakan, tapi belum honorer. Masih outsourcing gitulah. Di kantor sering nggak fokus buat kerja, penginnya nulis karena isi kepala penuh dengan cerita-cerita.

    Lalu pekerjaan yang mesti akrab dengan angka itu pun lama-lama nggak bikin nyaman lagi, meski gajinya lebih dari cukup. Sempet dilarang sama orang tua buat keluar. Dan entah kenapa, saya kurang bersyukur atau apalah itu. Saya keluar dan fokus belajar menulis. Terus sampai sekarang cuma jadi pegawai lepas dan belum dapet kerjaan tetap. Beberapa kali memang bisa menghasilkan dari menulis, terutama blog. Cuma, semakin bertambah umur jadi ngerasa nggak cukup. Hidup harus realistis. Masih mending kerja tetap kayak dulu. Soalnya jadi susah buat beli buku dan jam tidur sering kacau. Sepertinya dalam hal ini memang ada yang harus dikorbankan. Atau pintar-pintar menyiasati, gimana membagi waktu untuk bekerja dan menekuni hobi itu.

    Hm, semoga buat orang-orang yang resah akan hal itu segera ada titik terangnya ya, Mbak. Aamiin. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. WAHH DI KOMEN KAKAK YOGA.......

      Btw, salam kenal kak. Yg pertama, itu juga yg lagi aku rasain sekarang! Belum ada pikiran resign, sih. Apalagi kerjaanku PNS, orang tua bakal ngga setuju bgt kalo aku sampai resign. Cuma sekarang tuh lg kerja aja mikirnya pengin nulis mulu. Cari-cari ide buat bahan nulis, blogwalking, sama nongkrong di yt liatin konten orang. Cuma, aku sadar diri aja sama kemampuan menulis aku, mangkanya aku cuma berniat pingin konsisten aja dalam nulis blog, ngga muluk-muluk.

      Semangat, kak. Dan ya, semoga semuanya ada titik terangnya. Juga semoga dunia menulis ngga mati walau incomenya ngga menjanjikan. Aamiin. :)

      Hapus
  11. Bagiku melihat 2 objek dalam waktu bersamaan sangat sulit. Begitu juga tentang prinsip yang kamu bahas di atas.

    Kalo aku setuju banget pake cara preoritas, karena dengan begitu dalam bekerja atau melakukan apa yang disenangi menjadi tetep menyenangkan.

    Mgkn, kalo versiku ya waktunya kerja A, aku gak akan mikir pekerjaan B. Tapi, begitu juga sebaliknya.

    Memang sulit, tapi kalo gak pernah dicoba, ya gak tau.

    BalasHapus

I'll be glad if you leave any comment :)

Subscribe